Menanti Hantu di Musim Kemarau
| Sumber Gambar : www.merdeka.com |
Wilayah Indonesia yang secara
astronomis dilalui oleh garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memiliki dua
musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim-musim tersebut dipengaruhi
oleh gerak semu tahunan matahari yang terjadi
setiap tahunnya. Gerak semu tahunan matahari tersebut dipengaruhi oleh gerak
bumi mengelilingi matahari atau disebut dengan revolusi bumi, revolusi bumi ini
terjadi setiap satu tahun penuh atau 365,25 hari. Pergerakan bumi mengelilingi
matahari ini terjadi dalam dua tahap, yaitu tahap matahari berada di belahan
bumi utara dan tahap matahari berada di belahan bumi selatan.
Tahap matahari berada dibelahan bumi
utara terjadi pada bulan maret-september, pada tahap ini matahari akan lebih
lama menyinari wilayah dibelahan bumi utara (benua Asia) dibandingkan wilayah
dibelahan bumi selatan (benua Australia) sehingga suhu di wilayah belahan bumi
utara akan meningkat (tinggi) dan tekanan udaranya menurun (rendah). Begitu
pula sebaliknya, pada saat metahari berada di belahan bumi selatan yang terjadi
pada bulan september-maret, menyebabkan matahari akan lebih lama menyinari
wilayah di belahan bumi selatan (benua Australia) dibandingkan wilayah di belahan
bumi utara (benua Asia) sehingga suhu di belahan bumi selatan meningkat
(tinggi) dan tekanan udaranya menurun (rendah).
Pada bulan september-maret, kondisi
belahan bumi selatan yang memiliki suhu tinggi dan tekanan udara yang rendah
akan menyebabkan massa udara di belahan bumi utara (tekanan udara tinggi)
berpindah menuju wilayah bumi selatan (tekanan udara rendah), peristiwa ini
disebut dengan angin muson barat yang terjadi setiap setengah tahun (6 bulan)
sekali antara bulan oktober-april. Angin muson barat merupakan angin yang
menyebabkan terjadi musim penghujan di wilayah Indonesia, karena angin ini
berhembus dari kawasan Asia dan samudera hindia (bersifat lembab dan basah)
menuju kawasan benua Australia (kering) melalui wilayah Indonesia, yang pada
prosesnya membawa banyak uap air dari samudera hindia yang bersifat basah,
sehingga pada bulan-bulan tersebut di wilayah Indonesia terjadi musim
penghujan.
Pada bulan maret-september, kondisi
belahan bumi utara yang memiliki suhu tinggi dan tekanan udara yang rendah akan
menyebabkan terjadinya angin muson timur di wilayah Indonesia. Angin muson
timur merupakan angin yang terjadi setiap setengah tahun (6 bulan) sekali
antara bulan april-oktober, angin ini menyebabkan terjadinya musim kemarau di
wilayah Indonesia, karena angin ini berhembus dari kawasan yang bertekanan
tinggi (benua Australia) menuju ke kawasan bertekanan rendah (benua asia)
melalui wilayah Indonesia, yang pada prosesnya membawa udara yang miskin uap
air (udara kering) dari wilayah gurun di benua Australia menuju ke kawasan Asia,
sehingga pada bulan-bulan tersebut di wilayah Indonesia terjadi musim kemarau.
Musim kemarau di Indonesia merupakan
salah satu kondisi yang sering menghantui masyarakat kita, kenapa demikian?
Karena musim kemarau yang melanda setiap tahunnya itu akan membuka luka lama
dari masyarakat kita. Mengingat satu tahun yang lalu yaitu pada tahun 2015
merupakan salah satu bencana kekeringan yang cukup mengkhawatirkan di kawasan
Indonesia. Menurut Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), kemarau yang disusul dengan kekeringan di tahun
2015 itu, berlangsung lebih parah dari bencana kekeringan yang menghantam habis
ekonomi Indonesia tahun 1997 silam. Selain dari sektor perekonomian, di sektor
lain seperti pertanian dan ekologi juga turut mengalami dampak negatif dari
bencana kekeringan ini. Dilansir di
laman www.bpbd.go.id, pada musim kemarau tahun 2015 di pulau Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara terjadi defisit air sekitar 20 milyar meter kubik. Kekeringan tersebut
melanda 16 provinsi meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia
hingga akhir Juli 2015 dan luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan yaitu
seluas 111 ribu hektar. Pada sektor ekologi, bencana kekeringan dapat
memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan aktifitas manusia. Dampak negatif
terhadap ekologi tersebut dapat berupa kebakaran hutan dan tercemarnya udara
akibat kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan. Menurut Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kandungan karbon
di kabut asap sangat berbahaya bagi kesehatan. Dari pantauan kualitas udara
(PM10), nilai ambang batas (NAB) konsentrasi polusi udara yang normal itu
adalah 150 ugram/m3, namun konsentrasi PM10 yang disebabkan oleh kebakaran
hutan di Sumatera Selatan tahun 2015 sudah hampir mencapai 480 ugram/m3.
Berdasarkan hal itu, maka kabut asap sangatlah berbahaya terhadap kesehatan manusia terutama terhadap kesehatan
saluran pernapasan seperti reaksi alergi, peradangan, hingga infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA).
Sebagai wilayah dengan ancaman
kekeringan yang cukup serius, maka masyarakat haruslah lebih bijak dalam
menanggapi bencana kekeringan ini. Salah satu tindakan yang perlu dihindari
adalah tidak membakar hutan untuk membuka lahan baru, karena tindakan tersebut
akan mengakibatkan kerugian yang cukup serius dikemudian hari. Mari kita sambut
musim kemarau dengan bijaksana !
Oleh :
I Made Wahyu Gana Putra
