Laman

Selasa, 17 Mei 2016

Menyambut Musim Kemarau

Menanti Hantu di Musim Kemarau

Sumber Gambar : www.merdeka.com
Wilayah Indonesia yang secara astronomis dilalui oleh garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim-musim tersebut dipengaruhi oleh gerak semu tahunan matahari yang terjadi setiap tahunnya. Gerak semu tahunan matahari tersebut dipengaruhi oleh gerak bumi mengelilingi matahari atau disebut dengan revolusi bumi, revolusi bumi ini terjadi setiap satu tahun penuh atau 365,25 hari. Pergerakan bumi mengelilingi matahari ini terjadi dalam dua tahap, yaitu tahap matahari berada di belahan bumi utara dan tahap matahari berada di belahan bumi selatan.
            Tahap matahari berada dibelahan bumi utara terjadi pada bulan maret-september, pada tahap ini matahari akan lebih lama menyinari wilayah dibelahan bumi utara (benua Asia) dibandingkan wilayah dibelahan bumi selatan (benua Australia) sehingga suhu di wilayah belahan bumi utara akan meningkat (tinggi) dan tekanan udaranya menurun (rendah). Begitu pula sebaliknya, pada saat metahari berada di belahan bumi selatan yang terjadi pada bulan september-maret, menyebabkan matahari akan lebih lama menyinari wilayah di belahan bumi selatan (benua Australia) dibandingkan wilayah di belahan bumi utara (benua Asia) sehingga suhu di belahan bumi selatan meningkat (tinggi) dan tekanan udaranya menurun (rendah).
            Pada bulan september-maret, kondisi belahan bumi selatan yang memiliki suhu tinggi dan tekanan udara yang rendah akan menyebabkan massa udara di belahan bumi utara (tekanan udara tinggi) berpindah menuju wilayah bumi selatan (tekanan udara rendah), peristiwa ini disebut dengan angin muson barat yang terjadi setiap setengah tahun (6 bulan) sekali antara bulan oktober-april. Angin muson barat merupakan angin yang menyebabkan terjadi musim penghujan di wilayah Indonesia, karena angin ini berhembus dari kawasan Asia dan samudera hindia (bersifat lembab dan basah) menuju kawasan benua Australia (kering) melalui wilayah Indonesia, yang pada prosesnya membawa banyak uap air dari samudera hindia yang bersifat basah, sehingga pada bulan-bulan tersebut di wilayah Indonesia terjadi musim penghujan.
            Pada bulan maret-september, kondisi belahan bumi utara yang memiliki suhu tinggi dan tekanan udara yang rendah akan menyebabkan terjadinya angin muson timur di wilayah Indonesia. Angin muson timur merupakan angin yang terjadi setiap setengah tahun (6 bulan) sekali antara bulan april-oktober, angin ini menyebabkan terjadinya musim kemarau di wilayah Indonesia, karena angin ini berhembus dari kawasan yang bertekanan tinggi (benua Australia) menuju ke kawasan bertekanan rendah (benua asia) melalui wilayah Indonesia, yang pada prosesnya membawa udara yang miskin uap air (udara kering) dari wilayah gurun di benua Australia menuju ke kawasan Asia, sehingga pada bulan-bulan tersebut di wilayah Indonesia terjadi musim kemarau.
            Musim kemarau di Indonesia merupakan salah satu kondisi yang sering menghantui masyarakat kita, kenapa demikian? Karena musim kemarau yang melanda setiap tahunnya itu akan membuka luka lama dari masyarakat kita. Mengingat satu tahun yang lalu yaitu pada tahun 2015 merupakan salah satu bencana kekeringan yang cukup mengkhawatirkan di kawasan Indonesia. Menurut  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kemarau yang disusul dengan kekeringan di tahun 2015 itu, berlangsung lebih parah dari bencana kekeringan yang menghantam habis ekonomi Indonesia tahun 1997 silam. Selain dari sektor perekonomian, di sektor lain seperti pertanian dan ekologi juga turut mengalami dampak negatif dari bencana kekeringan ini. Dilansir di laman www.bpbd.go.id, pada musim kemarau tahun 2015 di pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara terjadi defisit air sekitar 20 milyar meter kubik. Kekeringan tersebut melanda 16 provinsi meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia hingga akhir Juli 2015 dan luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan yaitu seluas 111 ribu hektar. Pada sektor ekologi, bencana kekeringan dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan aktifitas manusia. Dampak negatif terhadap ekologi tersebut dapat berupa kebakaran hutan dan tercemarnya udara akibat kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kandungan karbon di kabut asap sangat berbahaya bagi kesehatan. Dari pantauan kualitas udara (PM10), nilai ambang batas (NAB) konsentrasi polusi udara yang normal itu adalah 150 ugram/m3, namun konsentrasi PM10 yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Sumatera Selatan tahun 2015 sudah hampir mencapai 480 ugram/m3. Berdasarkan hal itu, maka kabut asap sangatlah berbahaya terhadap  kesehatan manusia terutama terhadap kesehatan saluran pernapasan seperti reaksi alergi, peradangan, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
            Sebagai wilayah dengan ancaman kekeringan yang cukup serius, maka masyarakat haruslah lebih bijak dalam menanggapi bencana kekeringan ini. Salah satu tindakan yang perlu dihindari adalah tidak membakar hutan untuk membuka lahan baru, karena tindakan tersebut akan mengakibatkan kerugian yang cukup serius dikemudian hari. Mari kita sambut musim kemarau dengan bijaksana !

Oleh :
I Made Wahyu Gana Putra

Selasa, 16 Februari 2016

Sekilas Tentang Blog Ini

Aktifitas sehari-hari merupakan salah satu rutinitas yang telah kita lakukan semenjak kita mulai bisa berjalan, mungkin yang lahir di tahun 90'an flashback kemasa kecilnya yang senang bermain di alam terbuka hehe ... dimana aktifitas tersebut kita lakukan lebih banyak diluar ruangan. Semua aktifitas itu bisa berjalan jika kondisi pada saat itu mendukung untuk melakukan aktifitas-aktifitas tersebut, seperti kondisi kesehatan kita, kondisi keuangan kita (catat : dimana aktifitas diluar ruangan menyebabkan perut kita lebih mudah lapar dan saran penulis jangan lupa bawa uang jajan yaa hehehe..) dan yang paling penting adalah kondisi cuaca yang mendukung untuk beraktifitas diluar ruangan. Pada blog ini, penulis akan mem-posting berbagai hal yang berhubungan tentang dunia meteorologi yang salah satu cakupannya adalah cuaca yang menjadi hal penting untuk kehidupan sehari-hari kita. Penulis juga akan mem-posting tentang perkembangan dunia meteorologi di Indonesia maupun didunia melalui berita-berita terkini mengenai gejala-gejala alam yang memiliki sangkut pautnya dengan dunia meteorologi yang tentunya menjadi pilar atau acuan kita untuk beraktifitas dikehidupan sehari-hari. Mungkin pembaca menganggap selama ini bahwa prakiraan cuaca di tv maupun di radio hanyalah ramalan cuaca biasa yang menggunakan peramal untuk memperkirakannya (seperti peramal nasib atau peramal cinta hahaha) itu salah besar karena didalam dunia meteorologi, prakiraan cuaca tersebut bisa dipublikasikan kepada hal layak umum harus melalui proses yang panjang karena harus berdasarkan prosedur-prosedur yang telah ditentukan oleh WMO (World Meteorological Organization) maupun BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dimana tidak sembarang orang yang bisa memperkirakan keadaan cuaca tersebut, tetapi hanya orang yang telah memiliki sertifikat forecaster saja yang bisa melakukannya (bukan peramal nasib yaa hahaha....). Maka dari itu penulis membagi pemahaman tentang dunia meteorologi kepada para pembaca yang ingin memahami meteorologi lebih dalam lagi (meteorologi itu bukan sekedar membahas cuaca aja lhoo..., tetapi banyak parameter yang akan dibahas didalamnya), tetap ikutin postingan2 selanjutnya yaa ;)

Oleh : I Made Wahyu Gana Putra